Senin, 05 Juli 2010

Neraka disurga uruguay




Uruguay itu ‘Tim Surga’. Lolos terus biar lawannya perkasa. Tapi kali ini Belanda akan membuat ‘surga’ Uruguay berubah menjadi neraka. Tim Oranye akan mengalahkan ‘Tim Surga’. Akankah benar begitu? Inilah prediksi budaya tentang itu.


Uruguay itu bak surga. Negeri ini masuk grup yang memuluskan jalannya. Lawan-lawannya rata-rata setara atau di bawahnya. Baru setelah memasuki babak delapan besar, Ghana yang tersisa dari Benua Afrika mengujinya. Pertarungan dramatis itu ternyata memenangkan Uruguay.

Uruguay juga biasa hidup di ‘surga’. Negeri Amerika Latin yang berbatasan dengan Argentina dan Brazil ini terbilang negara ‘sehat’. Jarang terjadi konflik. Dan tidak masuk kategori negeri pengutang besar. Negeri ini ekonomi dan politiknya paling stabil, kendati dia masuk negeri kedua terkecil di Amerika Selatan.

Kenikmatan itu memang layak bagi Uruguay. Itu persis namanya yang berarti ‘Gambaran Sungai dan Burung’. Sebuah ekspresi ketulusan jiwa para pendiri negeri ini. Juga tujuan mulia membahagiakan dan memakmurkan rakyatnya. Uruguay yang beribukota Montevideo itu memang gemah ripa loh jinawi.

Namun ketenangan semua itu bukan berasal dari ketenangan. Ini diraih dari sebuah revolusi berdarah. Spanyol menguasai negeri ini di abad-abad sebelumnya. Dan melalui gesekan serta diplomasi akhirnya merdeka seperti sekarang ini. Mirip Indonesia di tahun 1945.

Di sudut bendera Uruguay terpampang gambar matahari cerah. Juga ternak dan kuda, serta gedung dan dacin lambang keadilan. Bendera ini perspektif negeri. Cita-cita ke depan, lahir dari semboyan ‘Libertad o Muerte’ (Kebebasan atau Kematian), yang dalam bahasa kita mungkin berarti ‘Merdeka atau Mati’.

Itu yang membuat semangat rakyat negeri ini tinggi. Dia pantang menyerah. Pantang undur dari kesulitan. Terbukti dari kiprah Uruguay yang tampil ngotot ketika berhadapan dengan lawan-lawannya di piala dunia kali ini. Berkat itu Uruguay dalam perhelatan sepak bola dunia sudah dua kali mengukir sejarah. Dia jadi jawara.

Namun seperti hukum alam, kausalitas pastilah berlangsung. Tesa harus ada antitesa sebelum menjadi sintesa. Itu yang kali ini agaknya menimpa Uruguay. Negeri yang lama ada di ‘surga’ itu, termasuk dalam laga Piala Dunia 2010 di Afrika ini diprediksi mendapat batu sandungan. Sandungan itu berupa kerikil tajam yang bernama Belanda.

Belanda nyaris lahir sebagai tim paripurna. Hanya karena problem Arjen Roben yang sering cedera dan Robin van Persie yang tak kunjung bersinar, maka tim ini agak lambat membuahkan gol. Selain itu, pasukan belakang juga agak mengkhawatirkan. Untung di laga-laga terakhir ‘salah pengertian’ pemain belakang mulai mampu ditutupi.

Kini babak akhir mulai mengerucut. Uruguay yang terus ‘diselamatkan’ nasib pamornya kian kusam. Kekusaman itu tampak saat berhadapan dengan Ghana. Adakah benar ‘Tim Surga’ ini akan dipaksa Belanda masuk neraka? Saya kok percaya begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar